Prestasi gemilang tahun ini kembali menambah daftar intelektualitas putra Takalar. Perubahan tata kelola pendidikan. yang menempatkan partisipasi siswa sebagai unsur utama dalam proses belajar mengajarpun didorong menghadirkan pembelajaran yang aktif, kolaboratif, dan berpusat pada peserta didik.
Adalah Sarianto, seorang mahasiswa Program Doktor Pascasarjana Universitas Negeri Makassar (UNM) menyusun disertasi yang mengulas evaluasi Program Guru Penggerak.
Menurut Sarianto, evaluasi terhadap program penggerak penting dilakukan agar capaian positif maupun kekurangannya dapat menjadi pelajaran dalam penyusunan kebijakan pendidikan berikutnya.
"Setiap program tentu memiliki kelebihan dan tantangan. Karena itu perlu dievaluasi supaya kebijakan baru bisa lahir dengan dasar yang lebih kuat," katanya.
Melalui disertasinya ini, Sarianto berhasil meraih gelar doktor dalam sidang promosi yang digelar di Ruang AD5 Gedung Pascasarjana UNM, Jalan Andi Djemma, Makassar, Jumat (24/4).
Sidang promosi doktor tersebut dipimpin Prof Wahira selaku ketua sidang. Sementara Prof Hamsu Abdul Gani bertindak sebagai promotor dan Dr Ansar sebagai kopromotor. Turut hadir Ketua Program Studi Prof Arismunandar dan tim penguji internal masing-masing Prof Ismail Tolla, Prof Kamaruddin Hasan, dan Dr Herlina. Sedang penguji eksternal Prof Bambang Budi Wiyono.
"Lulus dengan IPK 3,82 dan predikat cumlaude," kata Prof Wahira saat membacakan hasil sidang.
Penelitiannya, Sarianto mendalami faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan Program Guru Penggerak pada guru sekolah dasar di Kabupaten Takalar.Ia menemukan dukungan pemerintah daerah menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan program. Selain itu, kualitas guru serta dukungan sosial juga menjadi faktor pendukung utama.
Menurutnya, Program Guru Penggerak telah memberi ruang bagi guru untuk lebih kreatif dalam mengelola pembelajaran di kelas.
"Guru tidak hanya mengajar, tetapi dituntut menjadi pemimpin pembelajaran yang mampu mendorong siswa aktif, berpikir kritis, dan berani berpendapat," urainya.
Sementara itu, faktor penghambat yang ditemukan antara lain keterbatasan waktu guru mengikuti program yakni penguasaan, ketersediaan sarana teknologi serta keterbatasan anggaran untuk mendukung inovasi pembelajaran.
"Jangan sampai capaian baik dari program sebelumnya hilang begitu saja. Hal-hal yang berhasil harus dipertahankan, sementara kekurangannya diperbaiki," harapnya.
Dengan capaian tersebut, Sarianto tercatat sebagai doktor kesembilan pada Program Studi Administrasi Pendidikan Program Pascasarjana UNM. (*/wf)